Rabu, 13 November 2013

Polri Mengaku Tak Mengenal Istilah Big Fish

Polri mengaku tak mengenal istilah "big fish" (tangkapan besar) dalam memberantas tindak pidana korupsi, termasuk apakah kejahatan luar biasa itu menjerat pelaku kelas berat atau menyangkut nilai kerugiannya.

"Tidak ada istilah big fish karena buat kami, subjek hukum semuanya sama," kata Wakil Direktur Tindak Pidana Korupsi Bareskrim Polri Kombes Pol Ahmad Wiyagus di Mabes Polri Jakarta, Rabu.

Menurut Wiyagus, dalam institusi kepolisian, tidak ada istilah "big fish" yang berarti tangkapan besar dari segi pelaku atau nilai kerugian negara dalam kasus tindak pidana korupsi.

"Istilah big fish tidak kami masalahkan, yang penting kalau ada masalah, kami selesaikan," tegasnya.

Kendati demikian, Wiyagus juga mengakui bahwa kinerja instansinya dalam penanganan korupsi masih kalah pamor dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Menurut dia, kriteria tangkapan besar dalam penangan korupsi tergantung penafsiran masing-masing orang.

Ia juga mengatakan kepolisian tak kalah banyak mengungkap kasus tindak pidana korupsi. Beberapa di antaranya diakui sebagai kasus yang besar. Hanya saja pengungkapan kasus korupsi di kepolisian memang diakuinya kurang terekspos.

"Kelemahannya memang tidak terekspos. Ada beberapa kasus yang kami tangani, contohnya dugaan korupsi pengadaan alat kesehatan terkait wabah flu burung senilai Rp639 miliar. Berkasnya sudah selesai dan diawasi langsung oleh Panja Komisi IX DPR RI," jelasnya.

Selain kasus dugaan korupsi pengadaan alat kesehatan itu, kepolisian juga mengaku telah berhasil menyelesaikan kasus mantan Gubernur Maluku Utara Thaib Armaiyn yang diduga terlibat kasus penyimpangan Dana Tak Tersangka (DTT) senilai Rp6,9 miliar.

"Untuk kasus mantan Gubernur Maluku Utara, berkasnya akan segera diserahkan ke Kejagung," katanya.

Ping: Anti Mabuk.

Kamis, 03 Oktober 2013

Anggota Forum Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik

Delegasi muda dari beberapa anggota Forum Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik berharap Indonesia bisa memanfaatkan statusnya sebagai tuan rumah KTT APEC untuk menunjukkan bahwa negara ini aman dan nyaman dikunjungi. Kalangan muda itu mengaku selama ini lebih sering mendapat berita-berita negatif mengenai Indonesia dari media massa.

Daria Fedorofa adalah seorang mahasiswi asal Kota Vladivostok. Bersama seorang temannya, dia mewakili delegasi Rusia dalam forum kaum muda APEC Voices of the Future 2013 di Jimbaran, Bali, hari ini. Acara ini digelar di tengah-tengah Pekan KTT APEC, yang akan mempertemukan para pemimpin dari 21 anggota ekonomi Asia Pasifik.

Mengaku baru kali ini ke Bali, Daria mengaku sangat kagum akan keindahan Pulau Dewata itu. "Negara saya memiliki banyak bangunan megah dan bersejarah, namun di Bali ini kalian memiliki keindahan yang alami.

Pemandangan tebing [di Jimbaran] menakjuban, bisa melihat pemandangan matahari terbenam dengan indahnya. Budaya dan tari-tarian di Bali ini sangat unik. Orangnya ramah-ramah dan bisa berbahasa Inggris. Ini sangat membuka perspektif saya mengenai Indonesia," tutur Daria dalam bincang-bincang dengan VIVAnews hari ini.

Dia mengaku selama ini mendapatkan berita-berita yang berbeda mengenai Indonesia dari media massa. "Negara ini tampak mencekam oleh aksi terorisme dan fundamentalisme. Ada berita kontes kecantikan beberapa waktu lalu ditentang keras oleh kelompok ekstrem. Pokoknya sangat berbeda dari apa yang saya kunjungi dan saksikan langsung," ujar gadis berusia 20 tahun itu.

Maka, menurut dia, keindahan Bali dan suasananya yang menyenangkan ini harus bisa dimanfaatkan bangsa Indonesia untuk mengalahkan sejumlah pandangan miring. "KTT APEC ini bisa menjadi momentum untuk memperkuat citra itu. Kebetulan para pemimpin dan pengusaha APEC kini mengajak kami, kaum muda, untuk ikut berdialog," kata Daria.

Delegasi asal China, Pan Mailin, juga mengaku terpesona akan keindahan Bali. "Suasana di sini sangat kondusif bagi kami untuk berdialog dan bertukar pikiran mengenai perkembangan masing-masing negara di kawasan," kata Pan.

"Bali memang sangat eksotik. Saya suka dengan hiasan-hiasan bunga mininya. Tempat yang sempurna untuk dikunjungi," lanjut mahasiswi asal Kota Shenzen itu.  

Menurut Ketua Dewan Penasihat Bisnis APEC, Wishnu Wardana, forum muda Voices of the Future (APEC VOF) ini menghimpun pemuda-pemudi terpilih dan para pendidik dari Ekonomi APEC untuk berpartisipasi dalam Pekan KTT APEC. Tujuan dari program ini adalah untuk memberi kesempatan bagi para pemimpin muda APEC terlibat dalam sebuah pertemuan tingkat tinggi dan memberdayakan mereka dengan pengetahuan dan keterampilan memimpin untuk berinteraksi dengan para pemimpin dunia dan membuat perubahan di masing-masing komunitasnya.

"Saya berharap kalian setelah selesai acara akan membawa pesan yang positif mengenai Indonesia ke negara kalian masing-masing," kata Wishnu kepada para peserta.

Tahun ini total sebanyak 130 delegasi muda dari seluruh Ekonomi APEC, menghadiri APEC VOF 2013. Mereka terdiri dari para pelajar berusia antara 16-25 tahun, para pendidik dan penasehat. Siswa-siswi yang berpartisipasi ini dipilih berdasarkan prestasi mereka dalam memimpin dan dampak positif yang telah berhasil mereka ciptakan bagi masing-masing komunitas setempat.